ALASAN INDAH

(Pasti) ada alasan kenapa sesuatu yang indah menurut kita belum juga menyentuh kita. Dan sesuatu yang indah bagi semua orang mungkin adalah ketika merasakan sesuatu keyakinan tentang seseorang, atau dalam kata yang buat sebagian orang sakral adalah pernikahan.

Tapi menurut saya, untuk melakukan ‘itu’ memerlukan hal yang tidak bisa diungkapkan atau dilihat. Hal ini memerlukan sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Pertanda yang kita lihat atau kita alami membuat hati kita berasa berteriak “AHA!”, atau mungkin kita merasakan semacam degupan yang nggak biasa, yang membuat kita yakin untuk melangkah ke jenjang ini. Dan keinginan ini rasanya sama dengan hasrat ketika kita ingin punya pacar, bisa nyupir, dicium Brad Pitt (keinginan pribadi), jadi orang terkenal, jadi backpacker keliling dunia, minimal keliling Indonesia dulu (Sumpah, ini juga keinginan pribadi). Figure it!

Saya tidak menyarankan untuk hanya diam menunggu, tapi menurut saya Zat Yang Menciptakan Kita pasti punya timing sendiri untuk makhluk ciptaan-Nya. Bukankah segala sesuatu bakal indah pada waktunya…? Tapi nih, kalo dipikir-pikir, mungkin kita perlu tanyain lagi, kapan dan di mana sebenarnya Dia akan mempertemukan kita dengan jodoh kita… Di dunia, apa di akherat…?

Published in: on April 14, 2008 at 1:01 pm Comments (1)
Tags: ,

SALTUM

Dalam realinda, saya pernah cerita kalo udah 4 bulan terakhir ini saya rutin fitnes dan diterusin dengan senam. Pesertanya emang semuanya wanita dan ada beberapa ibu-ibu.

Kemarin saya tergelitik untuk menulis tentang pakaian yang banyak dikenakan oleh kami. Lumrah sih, menurut saya kalo ketika senam tapi nggak punya baju senam yang ketat dan agak terbuka itu kita pake t-shirt, tank top, atau kaos model singlet sebagai atasannya. Tapi gimana kalo yang dipake itu adalah dalaman?

Saya sebenarnya nggak jelas baju apa yang dipake ibu itu karena saya nggak megang bahannya. Tapi dari jauh kelihatannya seperti baju dalam berbahan brokat buat saya kalau nggak bisa dibilang berenda. warnanya pink, bertali tipis, berbahan tipis dan transparan sehingga branya terpampang jelas. Masalah nyerap keringat saya juga kurang jelas.

Ngh, tapi sudahlah, kalo ibu itu PD dengan apa yang dipakainya, sebenarnya nggak masalah, tapi karena ditempat senam itu juga ada tempat fitnes yang pesertanya kebanyakan laki-laki, dan bisa terlihat dari pintu yang suka terbuka, rasanya nggak nyaman saja.

Published in: on April 12, 2008 at 3:26 pm Leave a Comment
Tags: ,

Taj Mahal

“Kekasihku?”

“Ya.”

“Maukah kau…” Wajah Ibu memucat dan semakin lemah. “Maukah kau mengabulkan permintaanku?”… “Pertama,” lanjut Ibu, “jagalah anak-anak kita. Dan kedua jatuh cintalah lagi.”

“Tidak kekasihku.”

… “Jika demikian, bangunlah sesuatu untukku… sesuatu yang indah. Dan kunjungilah pusaraku… pada setiap peringatan kematianku.”

“Pasti, Sayangku.”

Tampak ibu menahan napasnya. “Biarkan aku pergi… dengan merasakanmu, menyentuhmu.”

Ayah membungkuk. Ia memeluknya sambil berbisik, “aku akan selalu bersamamu, oh Kekasih dari segenap cintaku.”… “Selalu, Sayangku. Selalu,” ucap Ayah sedih.

Kemudian ayah menciumnya. Ia mendekap Ibu lama sekali. Tak lama kemudian, tubuh Ibu tidak bergerak lagi.

Tidak pernah aku mendengar Ayah memanggil Ibu dengan panggilan itu sebelumnya. sebutan itu berarti ‘Istana Pilihan’, dan aku menyadari itu pastilah panggilan rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua.

“Dia tepat di bawah kita,” ujarnya lembut. “Mumtaz Mahalku.”

Pusara Ibu yang berhis mutiara ditempatkan dibawah bangunan utama, yang hanya bisa dicapai melalui jalan bawah tanah. Seperti yang ia janjikan diambang kematian istrinya, Ayah selalu mengunjungi pusaranya setiap memperingati malam yang menyedihkan itu.

“Makam ini harus dinamakan sesuai dengan nama Ibu,” kataku…

“Selama kelahiranmu itu, untuk pertama kalinya aku memanggil ibumu ‘Taj Mahal’.”

“Mumtaz berganti Taz seiring tahun berlalu. Setelah itu, nama dia sederhana saja, Taj.” Senyum samar melintas di wajahnya. Ia melepaskan tesmaknya lalu memejamkan mata. “Saat kami sedang berdua, dia adalah Taj bagiku.”

Kutipan dari buku yang sedang saya baca, Beneath a Marble Sky: A Novel of the Taj Mahal karya John Shors tahun 2004 yang diterjemahkan oleh Meithya Rose menjadi TAJ MAHAL: Kisah Cinta Abadi yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2006.

Published in: on April 10, 2008 at 8:02 pm Leave a Comment
Tags:

NGGAK SEMUA ANGKOT

Sekarang saya tinggal di Bengkulu. Sebelumnya saya kuliah di Bandung, dan pernah beberapa kali main ke Jakarta dan Bogor. Dari ketiga kota tersebut saya tergelitik untuk membandingkan “pelayanan” dan kondisi angkot-angkotnya dengan yang ada di Bengkulu, sebuah kota di Pulau Sumatera.

  1. Angkot di Bengkulu jarang, malah cenderung nggak ada angkot yang berupa kijang kotak (saya tidak tau apa sebutan mobil jenis ini), semuanya angkot keluaran suzuki dengan kondisi bodi yang bohai dan terawat, sebagian full music, dan bersih, termasuk nggak ada kernet.
  2. Walaupun ada terminal, di sini angkotnya (supirnya, mungkin) nggak betah ngetem lama-lama. Mereka juga nggak kenal ama sistim ngantri, siapa cepat (yang menarik perhatian calon penumpang) dia yang dapat (penumpang). Nggak pake marah-marah kalo penumpangnya diserobot.
  3. Supir angkot di Bengkulu juga nggak pernah teriak-teriak nyuruh penumpangnya geser duduk supaya muatannya sesuai dengan kapasitas tempat duduk. Kadang saya merasa warga Bengkulu tuh berkuasa banget atas angkot, kita masih bisa milih mau angkot yang mana, dari yang full kosong sampai yang supirnya ganteng.
  4. Angkot di sini nggak jarang menghibur penumpangnya dengan menyalakan radio tape yang ada, saya malah pernah naik angkot yang ada tv-nya, tapi menayangkan gambar dari karaoke.
  5. Mungkin karena Bengkulu bukan kota besar, jadi angkot-angkotnya juga nggak ada yang suka melaju atau berhenti sembarangan. Lagian sejak kredit motor gampang sekarang ini, banyak supir yang mengeluhkan penurunan jumlah penumpang yang beralih menggunakan motornya. Kalo dihitung-hitung emang hematan naik motor sih. Jauh-dekat terserah kita, sedangkan kalo naik angkot jauh-dekat ongkosnya sama.
  6. Tapi karena Bengkulu kota kecil, angkotnya juga jarang yang sampe tengah malam, kalaupun ada kitanya yang was-was takut dibawa ke mana… Terus rutenya sering nggak sesuai trayek (beda jalan dikit doang sih sebenarnya), jadi harus sering ngomong kemana tujuan kita biar nggak capek jalan.
Published in: on at 5:11 am Leave a Comment
Tags: