Sekarang saya tinggal di Bengkulu. Sebelumnya saya kuliah di Bandung, dan pernah beberapa kali main ke Jaka
rta dan Bogor. Dari ketiga kota tersebut saya tergelitik untuk membandingkan “pelayanan” dan kondisi angkot-angkotnya dengan yang ada di Bengkulu, sebuah kota di Pulau Sumatera.
- Angkot di Bengkulu jarang, malah cenderung nggak ada angkot yang berupa kijang kotak (saya tidak tau apa sebutan mobil jenis ini), semuanya angkot keluaran suzuki dengan kondisi bodi yang bohai dan terawat, sebagian full music, dan bersih, termasuk nggak ada kernet.
- Walaupun ada terminal, di sini angkotnya (supirnya, mungkin) nggak betah ngetem lama-lama. Mereka
juga nggak kenal ama sistim ngantri, siapa cepat (yang menarik perhatian calon penumpang) dia yang dapat (penumpang). Nggak pake marah-marah kalo penumpangnya diserobot. - Supir angkot di Bengkulu juga nggak pernah teriak-teriak nyuruh penumpangnya geser duduk supaya muatannya sesuai dengan kapasitas tempat duduk. Kadang saya merasa warga Bengkulu tuh berkuasa banget atas angkot, kita masih bisa milih mau angkot yang mana, dari yang full kosong sampai yang supirnya ganteng.
- Angkot di sini nggak jarang menghibur penumpangnya dengan menyalakan radio tape yang ada, saya malah pernah naik angkot yang ada tv-nya, tapi menayangkan gambar dari karaoke.
- Mungkin karena Bengkulu bukan kota besar, jadi angkot-angkotnya juga nggak ada yang suka melaju atau berhenti sembarangan. Lagian sejak kredit motor gampang sekarang ini, banyak supir yang mengeluhkan penurunan jumlah penumpang yang beralih menggunakan motornya. Kalo dihitung-hitung emang hematan naik motor sih. Jauh-dekat terserah kita, sedangkan kalo naik angkot jauh-dekat ongkosnya sama.
- Tapi karena Bengkulu kota kecil, angkotnya juga jarang yang sampe tengah malam, kalaupun ada kitanya yang was-was takut dibawa ke mana… Terus rutenya sering nggak sesuai trayek (beda jalan dikit doang sih sebenarnya), jadi harus sering ngomong kemana tujuan kita biar nggak capek jalan.